Sejarah Awal Terjadinya Perang Korea ( Part 2)

Dengan tidak adanya kooperasi dari Soviet atas resolusi yang diputuskan oleh PBB, ditentukan bahwa pemilihan umum yang diawasi oleh PBB hanya di Korea Selatan saja. Keputusan dalam pemilihan terpisah ini tidak disenangi warga Korea yang melihatnya sebagai awal dari pemisahan permanen dari negara tersebut. Gerakan protes menolak pemilihan tersebut dimulai dari Februari 1948, pada bulan April masyarakat pulau Jeju memberontak terhadap keputusan tersebut dan tentara Korea Selatan dikirim untuk meredam pemberontakan tersebut.

Puluhan ribu orang tewas dan diperkirakan 70% dari permukiman warga hangus terbakar. Pada 10 Mei 1948, Korea Selatan melakukan pemilihan umum, pemilihan ini digelar walau dalam keadaan kacau dan banyak kekerasan serta boikot terjadi. Pada tanggal 15 Agustus 1948, republik Korea mengambil alih Korea Selatan dari Amerika dengan Syngman Rhee sebagai presiden pertama.

Disebelah utara, Republik Demokrasi Rakyat Korea dibentuk pada tanggal 9 September dengan Kim Il Sung sebagai perdana menteri. Keresahan tetap berlanjut di Korea Selatan, pada Oktober 1948, pemberontakan Yeosu Suncheon terjadi dan kembali pula diredam oleh tentara Korea Selatan. Pada tahun 1948, pasukan Soviet ditarik mundur ke Rusia.

Pada tahun 1949, pasukan Korea Selatan berhasil menekan pemberontakan komunis. Namun Kim Il Sung percaya gerakan gerilya pemberontak telah melemahkan pasukan Korea Selatan, dan invasi Korea Utara akan diterima oleh warga Korea Selatan. Kim Il Sung kemudian meminta dukungan dari Stalin untuk sebuah invasi, Stalin pada awalnya berpikir bahwa waktunya belum tepat untuk memulai perang di Korea, dengan pemikiran bahwa pasukan Komunis China masih dalam urusannya dalam perang sipil China dan tentara Amerika yang masih berada di Korea Selatan.

Pada awal 1950, Stalin melihat bahwa peta kekuatan sudah mulai berubah, pasukan komunis China sudah memantapkan kemenangannya di China, pasukan Amerika telah mundur dari Korea selatan dan Soviet telah meledakkan bom Nuklir pertamanya sekaligus mengakhiri monopoli Bom Atom Amerika. Melihat hal ini Stalin mulai melancarkan strateginya di Asia dengan menjanjikan bantuan ekonomi dan militer kepada China melalui traktat persahabatan, persukutan, dan kerja sama Sino Soviet.

Pada April 1950, Stalin memberikan izin ke Kim Il Sung untuk menginvasi Korea Selatan dengan syarat Mao Jedong setuju untuk memberikan bantuan jika dibutuhkan. Stalin menyatakan bahwa pasukan Soviet tidak akan ikut berperang selama langsung untuk menghindari perang langsung dengan Amerika. Kim bertemu dengan Mao pada Mei 1950, Mao khawatir akan keterlibatan Amerika, tetapi setuju memberikan bantuan invasi Korea Utara karena membutuhkan bantuan ekonomi dan militer dari Soviet.

Mao mengirim tentara veteran China beretnis Korea dan berjanji untuk menggerakkan pasukannya mendekati perbatasan Korea. Beberapa jendral Soviet yang memiliki pengalaman perang di perang dunia ke 2 juga dikirim ke Korea sebagai grup penasihan dan selesai merencanakan penyerangan pada bulan Mei. Pada rencana awal serangan akan dilancarkan di semenanjung pantai barat Korea.

Kemudian serangan dilanjutkan dengan merebut Seoul dan menghancurkan pasukan Korea Selatan dan diakhiri dengan menghancurkan pemerintahan Korea Selatan, merebut seluruh Korea Selatan termasuk pelabuhan-pelabuhannya. Pada 7 Juni 1950, Kim Il Sung mengumumkan akan diadakan pemilihan umum seluruh Korea pada tanggal 5-8 Agustus 1950 dan konferensi konsulat pada 15-17 Juni 1950.

Pada 11 Juni Korea Utara mengirimkan 3 diplomat ke Korea Selatan sebagai penawaran perdamaian yang ditolak mentah-mentah oleh Syngman Rhee. Ketika Korea Utara sedang mempersiapkan invasinya, beberapa pertempuran kecil terjadi di garis paralel ke 38 yang kebanyakan dimulai oleh pasukan Korea Selatan. Pergerakan pasukan Korea Utara menuju perbatasan dinilai banyak pihak sebagai usaha pertahanan diri dan banyak yang menyimpulkan bahwa tidak mungkin akan terjadi invasi.

Pada tanggal 23 Juni, pengamat dari PBB yang menginspeksi perbatasan juga tidak dapat mendeteksi bahwa peperangan akan terjadi. Kemudian pada pagi hari, minggu, 25 Juni 1950, pasukan Korea Utara dibekali dengan tank dan artileri menyeberangi garis paralel ke 38, dan memulai sebuah peperangan baru di Korea yang akan berlangsung lebih dari setengah abad.